KPK Buka Peluang Panggil Kembali Menag Terkait Temuan Uang di Ruang Kerjanya

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang memeriksa kembali Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, beberapa waktu kedepan. Pemeriksaan Lukman Hakim nantinya untuk mengonfirmasi serta mendalami temuan uang yang ada di ruang kerjanya.

“Yang juga penting nanti ditelusuri lebih lanjut adalah terkait dengan uang ratusan juta yang kami temukan saat itu, butuh waktu pendalamannya, sehingga kalau dibutuhkan pendalaman lagi akan kami panggil kembali,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

Sebelumnya, ‎KPK telah menyita uang Rp180 juta dan 30 ribu Dollar Amerika Serikat usai menggeledah ruang kerja Menag, Lukman Hakim Saifuddin.

Selain ruangan Menag, tim juga menggeledah ruang kerja Sekjen Kemenag, Nur Kholis, dan ruang kerja Kepala Biro Kepegawaian Kemenag, Ahmadi. Dari ruangan lainnya, KPK menyita sejumlah bukti tambahan penting berupa dokumen.

Febri menjelaskan, penyitaan terhadap sejumlah barang bukti di ruangan kantor Kemenag disinyalir berkaitan dengan kasus dugaan jual-beli jabatan. Oleh karenanya, saat ini penyidik KPK masih mendalami hasil temuan dari sejumlah ruangan kantor Kemenag.

“Yang pasti ketika ada barbuk yang disita berarti itu diduga terkait dengan pokok perkaranya bahwa nanti detailnya di penyelidikan akan diklarifikasi misalnya yanh rupiah itu dari mana, yang valuta asing dari mana iru kan bagian dari teknis penyidikan,” terangnya.

Baca Juga : KETUA DPR: TAK ADA UNSUR TERPENUHI UNTUK PEOPLE POWER

Sejauh ini, KPK telah menetapkan mantan Ketum Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP), M Romahurmuziy sebagai tersangka. Anggota Komisi XI DPR RI tersebut diduga terlibat kasus jual-beli jabatan di Kementeriaan Agama (Kemenag).

Romi ditetapkan tersangka bersama dua orang lainnya yakni, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Provinsi Jawa Timur (Jatim), Haris Hasanuddin.