Seoul: Pengurangan Sanksi Korea Utara dapat Terjadi Lebih Cepat

SEOUL – Di dalam beragam spekulasi perihal sanksi pada Korea Utara selesai terjadinya pertemuan pertemuan pada Kim Jong Un dengan Presiden AS Donald Trump, minggu lantas, Seoul terlihat tidak sama pandangan dengan Washington.

Dalam pertemuan tingkat tinggi pada ke-2 pemimpin negara di Singapura, Selasa (12/6/2018) minggu lantas, dihasilkan penandatanganan perjanjian prinsip Korea Utara untuk lakukan denuklirisasi.

Selesai pertemuan, AS lewat menteri luar negerinya, Mike Pompeo menyatakan pihaknya bakal terus memberlakukan sanksi pada Korea Utara sampai Pyongyang bisa lakukan denuklirisasi dengan cara komplit, terverifikasi serta tidak bisa dikembalikan.

Akan tetapi, Korea Selatan, pada Senin (18/6/2018), mengemukakan bahwa pengurangan sanksi Korea Utara bisa berlangsung lebih cepat.

” Pernyataan sikap kami yaitu bahwa sanksi mesti terus diberlakukan hingga Korea Utara mula mengambil beberapa langkah yang bermakna serta riil menuju terjadinya denuklirisasi, ” kata Menteri Luar Negeri Korsel, Kang Kyung-wha ditulis AFP.

Dia memberikan, Seoul dengan Washington terus sharing pandangan pada ” deskripsi besar ” yag sama serta selalu meneruskan kerja sama konsultasi yang erat.

Komentar Korea Selatan itu nampak sekian hari selesai pernyataan Kementerian Luar Negeri China yang menyerukan pada Dewan Keamanan PBB untuk memperhitungkan pengurangan sanksi pada sekutunya, Korut.

China sebagai sekutu paling dekat Korea Utara mernjadi penyumbang 90 % perdagangan di Pyongyang.

Baca Juga : Jadi Biang Kemacetan Tol Cipali, “Rest Area” Tol Fungsional Ditambah

Sesaat beberapa ahli menilainya, pertemuan pada Trump dengan Kim di Singapura sudah bikin kebijakan sanksi pada Korea Utara lebih susah diaplikasikan, bahkan juga bila nanti diplomasi keduanya selesai tidak berhasil.

” Simbolisme pertemuan sudah meyakinkan bahwa kampanye desakan maksimum telah meraih puncaknya. ”

” Dalam praktiknya, China serta Korea Selatan selalu mendorong bakal terjadinya pelemahan desakan ekonomi pada Korea Utara, ” kata pengamat senior studi Korea, Dewan Jalinan Luar Negeri AS, Scott Snyder.