Setelah Larang Nama Islami, Cina Larang Postingan Ayat Al-Qur’an di Medsos

Setelah Larang Nama Islami, Cina Larang Postingan Ayat Al-Qur’an di Medsos

Diskriminasi yang dihadapi Muslis Uighur di Cina belum juga selesai. Kesempatan ini, seseorang Muslimah di lokasi Xinjiang di tangkap karna memposting ayat-ayat Al-Qur’an serta materi keagamaan yang lain di sosial media.

The New Arab, Jum’at (12/05), mengutip dari Radio Free Asia melaporkan kalau Muslimah berumur 26 th. itu ditahan di kota Korla minggu ini atas tuduhan menebarkan “pemikiran ekstrimis keagamaan”.

“Ada content religius ekstremis yg tidak bisa Anda publikasikan lagi, serta dia mempostingnya kembali, dia selekasnya memposting lagi hal sejenis itu, ” kata seseorang pegawai di satu tubuh pengawas ekstremisme yang di dukung pemerintah Cina. Ia memberikan kalau memposting cuplikan dari Al-Qur’an yaitu “melawan hukum”.

Dikethaui, lokasi paling barat Cina ditempati etnis Uighur, keturunan Turki. Mereka sering mengeluhkan represi budaya serta agama serta diskriminasi.

Baca Juga : Mendekati Piala Sudirman, Tim Bulu Tangkis Indonesia Lakoni Simulasi

Bln. lantas, pihak berwenang China melaunching daftar beberapa puluh nama bayi terlarang karna dikira sebagai aksi “ekstremisme”. Nama yang dilarang mencakup Islam, Quran, Jihad, Haji, Mekkah serta Madinah.
Awal th. ini, pihak berwenang di Xinjiang menginformasikan larangan jenggot serta burqa, dengan mengatakan rambut yang tumbuh “tidak normal” di muka atau kenakan jubah yang menutupi semua badan serta muka yaitu dilarang.

Human Rights Watch (HRW) sudah menyebutkan aksi itu sebagai penindasan. “Ini hanya yang paling baru dalam rangkaian ketentuan baru yang membatasi kebebasan beragama atas nama melawan ‘ekstremisme religius’, ” kata Direktur HRW di Cina, Sophie Richardson dalam satu pernyataan.

“Kebijakan ini yaitu pelanggaran terang-terangan perlindungan domestik serta internasional pada hak kebebasan beragama serta berekspresi. Bila pemerintah serius mengaplikasikan kestabilan serta keselarasan ke lokasi seperti yang diklaimnya, pemerintah mesti selekasnya menyingkirkan kebijakan represif, ” katanya.

Beijing sendiri sudah lama menuduh grup separatis Uighur seperti Gerakan Islam Turkestan Timur yang mendalangi serangan di lokasi yang kaya sumber daya alam.

Support by : posmetro